Pages

Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Tuesday, July 26, 2011

Ramadhan; Kita Lebih Banyak Makan?

Jika dibandingkan bulan Ramadhan semasa zaman saya budak-budak dulu (kira-kira 25 tahun lepas) dengan Ramadhan sekarang, banyak bedanya.

Dulu, ia memang betul bulan puasa sebab orang Islam memang berpuasa dan makannya juga kurang daripada hari-hari di bulan biasa. Siang puasa, malam juga kurang lebih berpuasa (kerana kurang makan).

Kini walaupun orang Islam masih jua puasa seperti dulu-dulu, tapi makan di kala berbuka dan waktu selepas berbuka, masyaAllah, tuhan saja yang tahu.

Nafsu makan dihangatkan dengan ratusan menu dan citarasa hidangan berbuka samada yang dilambakkan di bazar-bazar Ramadhan, restoran-restoran mahupun hotel-hotel. Macam-macam bentuk, warna, rupa, rasa dan nama.

Bahkan kini, bukan lagi asing berbuka puasa bahkan bersahur di hotel-hotel. Lihat saja promosi Ramadhan yang dibuat oleh hotel-hotel di seluruh negara.

Jadi apahalnya saya ungkitkan soal ini?

Ya untuk kita sama-sama fikir dan rasa. Apa masih ada lagikah kuasa aura berlapar dengan berpuasa dalam bulan Ramadhan zaman ini?

Mengapa kita diwajibkan berlapar di siang hari dalam bulan mulia ini kalau ia tidak memberi apa-apa manfaat inteletual, spiritual, emosi dan fizikal kepada kita? Bukankah ia satu yang sia-sia dan kerugian di kala rakan bangsa lain kenyang menjamah dan meneguk hidangan pelbagai rasa sebelum memulakan urusan kehidupan harian seperti biasa sedang kita boleh tengok saja?

Sesungguhnya Allah swt tidak menjadikan sesuatu itu dengan sia-sia. Ramadhan pasti bukan satu yang sia-sia. Tetapi hakikatnya, dek kerana perangai, pemahaman dan sikap orang Islam sendirilah yang menjadikan Ramadhan mereka sia-sia.

Bukan satu yang asing, di kala menunaikan solat tarawih orang Islam lebih suka berimamkan imam ‘gear lima’. Cepat habis. Di mana lagi tarawihnya? Faham atau tidak kita apa itu tarawih? Masalahnya mana datangnya imam jenis gear lima ini? Imam jenis ini faham atau tidak apa itu solat tarawih?

Tarawih adalah terapi. Ia mendamaikan hati dan jiwa yang berkecamuk selama 11 bulan yang lalu. Diri terasa sangat hampir dengan Pencipta. Terasa indah lama berdampingan denganNya. Terasa tenang suara hati kita didengariNya. Sayu dan hiba mendengar mukjizat wahyuNya. Tubuh terasa segar dan bertenaga setelah dicas semula, setiap malam selama 30 hari. Subhanallah

Ramadhan menjadikan orang Islam lebih proaktif dan produktif. Bangun awal, masa bekerja lebih daripada biasa, kurang bercakap, kurang makan, banyak bersedekah, banyak senyum dan berlumba-lumba buat amal kebaikan.

Kenapa perlu kita balik awal dari pejabat pada bulan Ramadhan? Jika kita ikut teladan yang tunjukkan oleh Rasulullah saw, setakat nak sediakan air minuman dan kurma sebagai jamahan berbuka, apa perlunya balik awal? Tapi tidak, gamitan nafsu lapar dan kemeriahan hiruk-pikuk bazaar Ramadhan memadam teladan mulia itu dari rekod kecerdikan fikir, rasa dan tindakan kita. Subhanallah

Justeru itu, baik rasanya andai dapat Ramadhan kali ini kita mulakan satu pelan tindakan baru agar Ramadhan benar-benar berbekas dalam jiwa kita. Agar Ramadhan benar-benar menjadi ‘sekolah pondok kepada roh’ kita. Agar Ramadhan benar-benar menjadi ‘kunci pintu syurga’ untuk kita.

Seru diri kita sendiri dan seru anak-anak dan isteri kita. Kita buat sedikit kelainan Ramadhan kali ini. Kita ‘lawat’ bazaar Ramadhan sekali atau paling banyak empat kali saja. Kita berbuka dengan air dan tamar sahaja. Kita makan malam seperti biasa selepas solat maghrib berjemaah. Kita mengaji sama-sama. Kita ke surau untuk solat tarawih beramai-ramai. Duit yang lebih kita sedekahkan setiap hari. Kita solat sunat sebelum sahur. Kita minum segelas susu semasa sahur. Kita tunggu malam Al Qadar dengan penuh surprise setiap malam. Allahu akbar indahnya Ramadhan kali ini.

Semoga Allah swt membuka pintu-pintu hati kita untuk merasai segala nikmat Ramadhan yang sebenar.

Andainya Ramadhan kali ini adalah yang terakhir, adakah kita bersedia? Jom sama-sama kita fikir, rasa dan lakukan yang terbaik untuk Ramadhan kali ini.

Ramadhan Kareem. Selamat menjalani ibadah puasa.

Wednesday, March 23, 2011

Latihan Solat Khusyuk Sabtu Ini Di Bangi!

Salam buat rakan pembaca sekalian. Saya petik cerita & iklan ini dari web I luv Islam. Jom pergi ramai-ramai & ajaklah insan-insan yang kita sayang...

Pada tengahari setelah berbagai penjelasan berjalan dari jam 9 pagi berkaitan Pelatihan Solat Khusyuk, tiba-tiba seorang anak muda mendekati saya:
"Pak... terima kasih", katanya terisak.
"Kenapa anda ada disini?, tanya saya.
"Saya dihukum seumur hidup pak."
"Kenapa...?"
"Saya membunuh satu keluarga", katanya datar.
"Ooo yaa...", mata saya menatapnya sejenak.
"Bapak mungkin masih ingat, pembunuhan satu keluarga di Belakang Balok Bukittingi. Nah pembunuhnya itu adalah saya...", sang anak muda seperti melamunkan kejadian itu kembali.
"Kenapa?"
"saya sakit hati kepada keluarga itu...", katanya mantap.
***beberapa pembicaraan lain saya skip***
"Pak... selama saya di sini di setiap khutbah saya selalu merasa tercabik-cabik, karena khatibnya selalu bercerita tentang azab neraka. Rasanya saya memang sudah pantas untuk masuk ke dalam kerak neraka. Sedang syurga rasanya nggak akan pernah saya rasakan. Bertahun-tahun saya dan teman-teman di penjara ini merasakan hal seperti itu. Penjara bukannya tempat kami bisa menemukan diri kami kembali. Tapi penjara hanyalah tempat perpindahan hidup kami dari alam merdeka ke alam gelap menakutkan di sini...", dia bercerita dengan mata redup.
"Tapi pak... hari ini ada benih-benih kebahagiaan muncul di dalam hati saya. Benih itu begitu cepat mekar dan berbunga. Hari ini, untuk pertama kalinya saya merasa begitu berbahagia. Rasanya bahagia itu begitu dalam... tak berdasar. Semakin saya menyelam... bahagia itu semakin pekat", matanya mulai kembali bersinar oleh sebutir cairan bening yang jatuh dari sudut matanya.
"Kenapa anda begitu bahagia...?", selidik saya..
"Hari ini untuk pertama kalinya dalam hidup ini, saya merasa punya ALLAH...", isaknya mulai memburu.
"Iya pak... Allah saya begitu lembutnya menyentuh hati saya, sehingga dada saya tadi begitu lega dan bahagia. Beban saya bertahun-tahun seperti lenyap seketika saat Alah saya menyentuh dada saya. Allah saya ternyata sangat berbeda dengan gambaran yang yang sering disampaikan orang kepada saya selama ini. Ternyata Allah saya bukan sesuatu yang sangat menakutkan. TIDAK. Allah saya adalah Allah yang sangat menyayangi saya. Ternyata untuk mengenal Allah saya yang sekarang, saya harus terlebih dahulu masuk kedalam penjara ini...", matanya sejenak seperti terpejam.
"Pak... saya sekarang punya Allah...", suaranya mulai serak.
"Ya Allah... Ya Allah...", dadanya kembali bergemuruh.
"Ya Allaaaaaah... Ya Allaaaahhh", jantungnya mulai menggelepar...
"Ya Allah... Ya Allah...", ruhaninya pun meluncur...
Dia tersungkur sujud, sambil menangis dengan suara keras.
Saya pegang pundaknya dengan lembut dan berkata :
"Letakkan semua tangis dan suaramu itu didalam hatimu...!"
Lalu... dia diam... yang ada hanya seonggok tubuh yang sedang sujud. Yang ada hanya butiran air matanya yang mengalir deras. Yang ada hanya gerakan keluar masuk nafasnya yang lembut. Tanda kehidupan.
Kemudian saya ajak dia memuja Allah...
"Subhanallah.... Alhamdulillah, laa ilaha Illallah, Allahu Akbar," dia ikuti semua itu dengan lirih.
Saya minta dia segera memperbaharui syahadatnya dan bershalawat untuk Nabi. Dia lakukan semua itu dengan tubuh menggigil.
Lalu dia beranjak kepojok masjid yang ada di dalam penjara itu, dan dia melakukan shalat yang alangkah panjangnya....
Saat saya pamit mau ke penjara narkoba, saya mencari-cari si pemuda tadi. Tidak ketemu....
"Mana dia...?" bisik hati saya.
Tiba-tiba seseorang mengatakan kepada saya: "Pak si fulan itu..., sedang shalat pak dari tadi..."
Lalu dari mulut saya menggurimin sebait do'a: "Ya Allah... berkehendaklah untuknya ya Allah..."
Dan saya pun berlalu dengan bahagia....
Wassalam
Yusdeka Putra

Kisah ini terjadi ketika salah satu siri Kursus Solat Khusyuk yang dijalankan oleh Pak Yusdeka Putra (anak murid kepada Pak Ustaz Abu Sangkan). InsyaAllah Ustaz Abu Sangkan akan mengadakan Kursus sehari Solat Khusyuk di Malaysia pada 26 Mac 2011 (Sabtu) di IKRAM (KLIUC), Bangi bermula dari jam 9 pagi – 6 petang. Yuran RM90 (diskaun RM5 untuk pengunjung IluvIslam.com. Jadi anda hanya perlu bayar RM 85). Jangan lepaskan peluang ini dan nikmat kebahagiaan yang sebenar dalam solat yang khusyuk. Hubungi Syarifah di talian 0133119670 untuk pendaftaran. Tempat sangat terhad!

Monday, September 27, 2010

Prestasi 'Kemuslimanku'?

Hari ini, isteri yang saya cintai memanjangkan kepada saya satu petikan emel yang diterima daripada rakannya yang cukup menarik dan boleh kita gunakan untuk menilai prestasi 'kemusliman' kita. Jika kita bangga bergelar muslim dan jika kita marah orang lain memperkecil-kecilkan kita, cuba baca petikan ini. Petikan ini saya postkan di sini tanpa saya edit. Selamat membaca....

"Aku punya seorang rakan baik dari zaman kanak-kanak. Lim Wei Choon. Sama-sama bersekolah rendah hingga ke peringkat menengah . Selepas SPM. Aku masuk ke Tingkatan 6, manakala Lim dihantar keluarganya melanjutkan pelajaran ke Amerika Syarikat. Kenangan sewaktu kanak-kanak hingga ke zaman remaja terlalu banyak yang dikongsi bersama.
Setiap kali hariraya menjelang, Lim pasti berkunjung ke rumahku untuk menikmati dodol arwah ayahku yang amat digemarinya. Kadangkala, jika ada kenduri kendara dirumahku, pasti Lim akan turut serta. Aku jarang ke rumahnya kecuali umtuk beberapa sambutan seperti harijadi dan juga Tahun Baru Cina. Aku takut dengan anjing peliharaan keluarga Lim. Dengan Lim juga aku belajar matematik manakala subjek Bahasa Malaysia sering menjadi rujukannya padaku.
Kenangan-kenangan seperti memancing, mandi jeram, ponteng sekolah untuk melihat pertandingan 'breakdance', semuanya kami kongsi bersama-sama. Apa yang ingin kunyatakan ialah, warna kulit dan perbezaan ugama tidak pernah menjadi penghalang persahabatan kami.
20 tahun telah berlalu, Lim telah menetap di Amerika setelah berjaya mendapat Green Card, beliau bekerja disana. Itu yang kuketahui dari kakaknya. Hubungan ku dengan Lim terputus setelah dia melanjutkan pelajaran. maklumlah, dizaman kami dulu tiada internet, email atau telefon bimbit, yang ada cuma sesekali menghantar poskad bertanya khabar. Untuk menulis surat kepada lelaki amat malas kami rasakan.
Suatu pagi. Aku bertembung dengan kakak Lim di pasar , kakaknya memberitahu Lim akan pulang ke tanahair. Dan aku amat terkejut dengan berita yang kudengar dari kakaknya. " He's name is no more Lim Wei Choon. He's now Ahmad Zulfakar Lim since 5 years ago. ..Subhanallah! Syukur Alhamdulillah, rakan baikku telah menemui hidayah dari Allah S.W.T. Memang aku tak sabar untuk berjumpa dengannya lebih-lebih lagi setelah menjadi saudara seagama denganku.
Hari yang kutunggu-tunggu telah tiba, dan petang itu aku berkesempatan bertemu dengan Lim dirumahnya. Ada satu keraian istimewa sempena menyambut kepulangannya. Ketika aku tiba, tetamu sudah semakin berkurangan.
....Itulah kalimat pertama dari mulutnya, wajahnya sudah jauh berubah, air mukanya amat redup dan tenang. Aku menjawab salam dan berpelukan dengannya dan kami menangis umpama k ekasih yang sudah terlalu lama terpisah.
'Ini dia olang memang sudah manyak lama kawan, dari kecik ini dua olang" Ibu Lim menjelaskan pada beberapa orang tetamu yang melihat peristiwa kami berpelukan dan menangis itu. Tetapi aku bukan menangis kerana apa, tetapi kerana amat sebak dan terharu dan sangat bersyukur melihat keislaman rakanku.
Lim mengajak aku duduk dibuaian dihalaman rumahnya untuk berbual-bual. beliau masih fasih berbahasa melayu walau sudah lama berada diperantauan.
Talha, kau kawan baik aku kan? betul tak?...
Memanglah..Kenapa kau tanya macam tu?
kalau kau kawan baik aku, Kenapa kau biarkan aku diseksa?
Sorry Lim. Aku tak faham..diseksa? What do you mean?
Cuba kau fikir, kita ni kawan dari kecil. Aku ingat lagi, rumah kau tu, is my second house. Tapi, mengapalah kau tak pernah ceritakan pada aku tentang Islam? Mengapa aku kena pergi ke US baru aku dapat belajar tentang Islam? Mengapa bukan di Malaysia, negara Islam ni? Dan mengapa aku di Islam kan oleh seorang bekas paderi kristian?
Aku terdiam, kelu tak mampu menjawab. Dan Lim terus berkata-kata.
Kalau betullah kau kawan baik aku, Kenapa kau cuma nak baik dengan aku di dunia saja? kau suka tengok kawan baik kau ni diseksa didalam api neraka?
Kau tahu, kalaulah aku ni tak sempat masuk islam hingga aku mati. Aku akan dakwa semua orang melayu Islam dalam kampung kita ni sebab tak sampaikan dakwah dan risalah Islam pada aku, keluarga aku dan non muslim yang lain.
Kau sedar tak, kau dah diberikan nikmat besar oleh Allah denagn melahirkan kau didalam keluarga Islam. tapi, nikmat itu bukan untuk kau nikmati seorang diri, atau untuk keluarga kau sendiri, kau dilahirkan dalam Islam adalah kerana ditugaskan untuk sampaikan Islam pada orang-orang yang dilahirkan dalam keluarga bukan Islam macam aku.
Aku masih tunduk dan terkata apa-apa kerana sangat malu.
Berdakwah adalah tugas muslim yang paling utama, sebagai pewaris Nabi, penyambung Risalah. Tetapi apa yang aku lihat, orang melayu ni tiadak ada roh jihad, tak ada keinginan untuk berdakwah, macamana Allah nak tolong bangsa melayu kalau bangsa tu sendiri tak tolong ugama Allah?
Aku bukan nak banggakan diri aku, cuma aku kesal..sepatutnya nikmat ini kau kena gunakan dengan b etul dan tepat, kerana selagi kau belum pernah berdakwah, jangan kau fikir kau sudah bersyukur pada Allah. Dan satu lagi, jangan dengan mudah kau cop orang-orang bukan Islam itu sebagai kafir kerana kafir itu bererti ingkar. Kalau kau dah sampaikan seruan dengan betul, kemudian mereka ingkar dan berpaling, barulah kau boleh panggil kafir.
Aku menjadi amat malu, kerana segala apa yang dikatakan oleh Lim adalah benar! dan aku tak pernah pun terfikir selama ini. Aku hanya sibuk untuk memperbaiki amalan diri sehingga lupa pada tugasku yang sebenar. Baru aku faham, andainya tugas berdakwah ini telak dilaksanakan, Allah akan memberikan lagi pertolongan, bantuan dan kekuatan serta mempermudahkan segala urusan dunia dan akhirat sesorang itu.
Petang itu aku pulang dengan satu semangat baru. Aku ingin berdakwah! Lim yang baru memeluk Islam selama 5 tahun itu pun telah mengislamkan lebih 20 orang termasuk adiknya. Mengapa aku yang hampir 40 tahun Islam ini (benarkah aku islam tulen) tidak pernah hatta walau seorang pun orang bukan Islam yang pernah kusampaikan dengan serious tentang kebenaran Islam?
Semoga Allah mengampuni diriku yang tidak faham apa itu erti nikmat dilahirkan sebagai Islam.
P/s : sebagai Tauladan..
'(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah! hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.' (ar-Raad : 28)."

Wednesday, April 28, 2010

Tangani Gejala Sosial Remaja; Mulakan Dengan Langkah Kecil?


Pelbagai persoalan menerjah ke minda kita yang waras ini apabila terbaca berita-berita mengenai salah laku di kalangan pelajar sekolah atau remaja di negara ini.

Persoalan tentang psikologi remaja, peranan ibubapa, sistem pendidikan, fungsi kejiranan, tanggungjawab guru, peranan institusi agama, faktor teknologi dan bermacam-macam lagi. Sebenarnya persoalan-persoalan ini berhubung kait antara satu dengan yang lain. Dalam erti kata lain, merungkai satu persoalan sahaja tanpa menyelesaikan persoalan yang lain tetap tidak akan menyelesaikan masalah pokok.

Remaja mudah terjebak dengan aktiviti kurang sihat dan ini bukan satu perkara yang pelik atau perlu dihairankan. Sejak dahulu lagi kajian dalam bidang psikologi menunjukkan pada peringkat remaja mereka berada dalam keadaan “keliru dan tercari-cari” dalam membentuk identiti mereka yang sebenar. Menurut teori perkembangan psikososial ahli psikologi Eric Ericson (1902-1994), pada peringkat ini ia dipanggil Stage of Learning Identity versus Identity Diffusion (Fidelity). Ini proses fitrah dalam mencapai kematangan.


 Yang perlu kita hairankan ialah apa yang dilakukan oleh golongan dewasa yang kononnya telah matang, seperti ibubapa, guru, keluarga, jiran, imam dan pemimpin masyarakat dalam membimbing golongan mentah ini mengharungi dengan selamat fasa kehidupan remaja yang penuh dengan kekeliruan. Jika kita yang dewasa ini telah memainkan peranan masing-masing dengan betul dan sempurna, mengapa masih berlaku kes salah laku remaja hari ini?

Mengambil contoh kes zina dan bunuh yang dilakukan oleh remaja. Bunyinya seperti terlalu dasyat kerana selama ini perspektif kita juga telah diprogramkan untuk melihat jenayah ini “lebih lembut” dengan penggunaan istilah seks bebas atau seks luar nikah dan buang bayi.

Kita ambil contoh satu kes yang berlaku di mana untuk ‘membersihkan’ maruah diri, teman lelaki dan keluarganya ada kes seorang remaja perempuan (penulis tukar namanya kepada XX) berusia 14 tahun telah membunuh anak yang dilahirkan dengan membuangnya dalam tong sampah. Mari kita buat analisis ringkas untuk melihat siapa yang ‘terlibat’ dalam kes ini.

XX tidak akan membunuh jika dia tidak melahirkan anak haram dan dia tidak mengandung anak haram jika tidak berzina dengan teman lelakinya, XY. XX dan XY tidak akan berzina jika mereka tidak berpacaran dan mereka tidak akan berpacaran jika mereka dibimbing dengan betul untuk menjawab kekeliruan mereka tentang cinta, perhubungan dan seks.


Siapa yang patut memberi kefahaman ini kepada mereka kalau bukan kita yang dewasa. Ibubapa sebagai insan paling dekat dengan mereka sejak kecil berperanan membina perspektif mereka bahawa tiada istilah cinta dan remaja dalam Islam apatah lagi seks sebelum kahwin.

Seks sebelum kahwin adalah zina dan ia adalah satu daripada dosa-dosa besar yang amat dasyat kesannya kepada diri secara fizikal, emosi dan rohani sehingga akhir hayat di dunia dan di akhirat. Allah swt tlah memberi amaran dalam Al Quran melalui firmannya dalam surah Al Isra’ ayat 32 yang bermaksud, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jahat (yang membawa kerosakan).” Cinta dan hubungan hanya dalam perkahwinan.

Ilmu ini sepatutnya mudah ‘diajarkan’ oleh ibubapa kepada anak-anak dan mustahil perkara semudah ini pun kita perlukan ustaz atau ulama. Ilmu tentang agama bukan hanya milik ustaz atau ulama tetapi milik semua kita yang bergelar muslim. Itulah sebabnya kita wajib menuntut ilmu sebelum menyanggupi satu-satu tanggungjawab selaras hadith Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Hassan Al Mawardi yang bermaksud, “Sesiapa yang inginkan kebahagiaan di dunia maka hendaklah dia berilmu, dan sesiapa yang inginkan kebahagiaan di akhirat maka hendaklah dia berilmu dan sesiapa yang inginkan kebahagiaan kedua-duanya sekali maka hendaklah dia berilmu.”

Perspektif XX dan XY tentang perkara ini menjadi lebih kukuh dan lebih diyakini jika guru-guru membimbing dan mewujudkan budaya bebas cinta, dan bukannya cinta bebas, di sekolah melalui pelbagai program pembudayaan yang konsisten. Subjek Pendidikan Islam dan Moral sepatutnya diajar melangkaui skop akademik semata-mata. Ia mesti dan sepatutnya menjadi sistem hidup pelajar. Prestasi subjek ini bukan disandar kepada jumlah A atau E dalam peperiksaan tetapi kepada nilai akhlak, amalan dan jatidiri pelajar. Di dalam kelas mereka diajar arak dan zina itu adalah dosa besar tetapi sekelip mata di luar kelas mereka melakukannya. Pelik!

Dalam iklim moral yang agak gawat kini, seharusnya setiap seorang guru tidak kiralah apa subjek yang diajar, mengambil tanggungjawab sosial setiap hari meluangkan masa tidak lebih 5 minit di awal masa mengajar untuk membina perspektif anak-anak didik tentang hakikat kehidupan.

Cuba kita kira, 5 minit X 6 waktu X 5 hari X 4 minggu bersamaan 10 jam sebulan. Penulis rasa itu adalah satu tempoh masa yang lebih daripada mencukupi untuk mendidik anak-anak tentang erti kehidupan. Kita tak perlu buat silibus baru, tambah waktu persekolahan atau guru dan sebagainya. Cukup sekadar kesedaran, kemahuan dan komitmen setiap guru.


Dulu guru juga yang ajar kita, sikit-sikit lama-lama jadi bukit dan ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Soalnya adakah guru-guru sekarang memahami apa yang diajar oleh guru-guru dulu? Faktor guru sering bertukar sekolah juga adakalanya menjadi punca usaha-usaha pembudayaan positif yang dilakukan terbantut sekerat jalan.

Selain itu, imam-imam masjid perlu mengambil tanggungjawab penuh mengingatkan dan memberi pedoman praktikal kepada para bapa khususnya melalui khutbah jumaat agar mereka tidak terlepas pandang untuk membimbing dan memantau tumbesaran jiwa anak-anak remaja mereka. Sehari pun kita tidak sanggup membiarkan perut anak-anak kita kosong tetapi kenapa sanggup membiarkan mereka kosong minda, jiwa dan rohani sehingga dewasa?

Isi kandungan dan gaya penyampaian khutbah perlu disegarkan agar ia mampu menerjah ke lubuk fikir dan hati para jemaah dan bukannya mengundang selera lena seperti semua sedia maklum. Kenapa terlalu ‘takut’ dan terikat dengan teks khutbah yang disediakan oleh pihak berkuasa agama sehingga memandulkan kreativiti dan intelektualiti khatib?

Pastinya seseorang khatib yang bertauliah punyai pengetahuan, ilmu dan pengalaman sendiri yang luas dan inilah bahan praktikal yang patut diserasikan dengan teks khutbah rasmi agar ia lebih mesra pendengar, memberi makna dan bukan sekadar pengisian ritual yang adakalanya sampai ke tahap membuang masa kerana tidak diketahui apa tujuannya. Seseorang khatib lebih memahami suasana setempat masjid di mana dia berkhutbah berbanding pegawai agama yang duduk di ibu negeri yang menyediakan teks tersebut. Mustahillah hendak bagi contoh pun perlu mendapat kebenaran bertulis penguasa.


Lebih jauh daripada itu, pelbagai program boleh diatur oleh masjid untuk memberi ruang kepada golongan remaja lelaki dan perempuan dalam kariah masing-masing menyumbang idea dan tenaga sekaligus menjadi sahabat dan ‘rapat’ dengan masjid. Masjid dan surau adalah untuk semua golongan dan bukan untuk golongan tertentu sahaja.

Tidak salah juga jika dikatakan teknologi komunikasi dan maklumat kini juga menjadi wahana memburukkan lagi keadaan. Teknologi tidak bersalah. Yang salah kita yang menggunakannya. Berapa ramai daripada ibubapa hari ini yang ada ‘kuasa’ atau ‘ilmu’ untuk memeriksa isi kandungan gajet komunikasi milik anak-anak?

Ibubapa kini, tidak keterlaluan jika dikatakan, seolah-olah buta hati apabila boleh mempercayai bulat-bulat yang anak-anak mereka hanya menggunakan gajet-gajet tersebut untuk tujuan baik seperti belajar, cari maklumat untuk tugasan sekolah, hubungi kawan untuk perbincangan kerja sekolah dan hubungi ibubapa apabila ada kecemasan.

Langsung tidak masuk akal! Sekarang dengan tersedianya prasarana teknologi maya tanpa wayar berkelajuan tinggi, hanya satu dua klik mereka terdedah dengan bermacam-macam ‘maklumat yang merosakkan’.

Sebagai ibubapa kita seharusnya bijak menerangkan kepada anak-anak tentang keperluan memiliki gajet-gajet tersebut. Kita jangan mudah termakan dengan rengekan manja anak-anak hanya kerana kita sayangkan mereka.


Sayangkan anak bukan bermakna mesti berikan mereka segalanya. Sudah sampai masanya, sayangkan anak ada perkara yang tidak patut kita berikan. Bak kata pepatah ‘sayangkan anak tangan-tangankan’. Tangan-tangankan bukan sekadar bermaksud denda atau rotan tapi mungkin juga bermaksud tidak boleh, tidak perlu atau jangan! Jangan pula nanti anak kita mengulangi skrip si Sazali, “bapak yang bersalah dalam soal ini! Bapak membesarkan Sazli dengan cara membabi buta saja!” dalam filem Allahyarham P. Ramlee Anakku Sazali.

Kesimpulannya, jika semua pihak benar-benar sedar dan prihatin untuk tangani isu salah laku sosial di kalangan remaja langkah pertama yang boleh dan wajar kita lakukan ialah menilai kembali apa fungsi terbaik yang boleh kita lakukan sebagai diri kita sendiri sekarang. Semua perlu bergandingan dan berhenti menuding jari.


Mulakan dengan ahli keluarga kita sendiri dahulu. Bermula dari keluarga ia akan berkembang menjadi penduduk kemudian masyarakat dan percayalah akhirnya rakyat negara seluruhnya. Lakukannya walaupun ia kecil kerana perkara kecil yang dibuat selalu dan konsisten tanpa jemu adalah jauh lebih baik daripada perkara besar dan gah yang dibuat hanya sekali dua. Batu yang keras pun lama-kelamaan berlekuk jua ditimpa dek titisan air yang tak pernah jemu menitik.